TARIAN RANGKUK ALU[1]
MENILIK JODOH DI BAWAH SINAR BULAN
PURNAMA
Latar Belakang
Suku Manggarai merupakan salah
satu suku yang mendiami Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Suku Manggarai kaya akan ritual budaya, baik dalam relasinya
dengan Sang Maha Tinggi maupun dengan sesama dan alam semesta. Kebudayaan yang
cukup ‘kental’ tersebut membuat suku
Manggarai dalam menempuh hidup akan selalu diliputi oleh berbagai ritual.
Ritual yang paling kas dilakukan
adalah cear cumpe (kelahiran), wagal (perkawinan) dan kelas (kematian). Perkawinan merupakan
salah satu fase kehidupan yang memiliki porsi perhatian lebih dalam kehidupan
suku Manggarai. Sebelum memasuki tangga perkawinan, harus melewati ritual-ritual
yang sangat khas Seperti peminangan, tuke
mbaru, perkwainan lalu wagal.
Tetapi sebelum memasuki fase ritual perkwainan harus berpacaran atau saling
mengenal terlebih dahulu.
Tarian merupakan salah satu media
yang memungkinkan perjumpaan antara muda dan mudi Manggarai. Tarian yang
lazimnya dilaksanakan pada siang hari, seperti Caci, sudah cukup familiar bagi banyak orang Manggarai. Namun,
untuk tarian Rangkuk Alu, yang
biasanya dilaksanakan pada malam hari di bawah sinar bulan purnama telah lama
ditinggalkan. Terutama setelah kemajuan tehnologi penerangan, listrik dan
sebagainya, telah merambah kehidupan Suku Manggarai.
Pada zaman sekarang, tarian Rangkuk Alu sering dipentaskan pada
siang hari oleh sanggara-sanggar budaya di Nuca
Lale.[2]
Pementasa yang dilaksanakan pada siang hari tersebut biasanya dilakukan untuk
melayanai kebutuhan kepariwisataan. Bila ada turis yang mengunjungi sanggar
budaya atau kampung tradisional, maka ada tarian-tarian pembukaan, tarian
penyambutan termasuk tarian Rangkuk Alu
dipentaskan.
Fenomena kapitalisasi terhadap
kebudayaan tradisional pada zaman sekarang memang sulit dibendung. Esensi dari
tarian Rangkuk Alu kemudian tidak
terlalu dihasrati sebab pementasan tarian Rangkuk Alu (mungkin juga tarian
tradisonal lainnya) tidak lebih dari sebuah transaksi bisnis belaka. Tidak
bermaksud mengatakan ini salah tetapi baik untuk menjadi landasan berpikir
sehingga dapat memahami esensi suatu kebudayaan secara bijaksana.
Rumusan
Permasalahan
Untuk
pembahasan makalah ini, saya hanya mebatas diri pada tarian Rangkuk Alu. Contoh-contoh yang akan
diambil dari jenis tarian lain di Manggarai hanya untuk mendukung eksistensi
tarian Rangkuk Alu itu sendiri.
Adapun
permasalahan yang harus dijelaskan dalam makalah ini adalah;
Apa
dan bagaimankah tarian Rangkuk Alu
tersebut? (1), Kapan tarian rangkuk alu dipentaskan? (2), Bagaimana posisi tarian Rangkuk Alu dalam
kaitannya dengan kehidupan suku Manggarai pada zaman sekarang?(3).
Tujuan
Penulisan makalah ini untuk memperdalam
pengetahuan pemakalah terhadap budaya lokal Indonesia, khususnya suku Manggarai,
sehingga keragaman yang membentuk bangsa Indonesia dapat dipahami secara
bijaksanan.
Rangkuk
Alu
sebagai hentakan-hentakan hasrat.
Tarian Rangkuk Alu mungkin tidak sefamiliar tarian caci baik bagi orang-orang Manggarai sporadis maupun orang-orang yang memang bukan dari suku
Manggarai. Tarian Rangkuk Alu
sesungguhnya tarian asli dari daerah Manggarai yang dimainkan oleh beberapa
orang wanita dan pria. Wanita dan pria yang memainkan tarian ini pada umumnya
belum kawin dan telah memiliki kriteria untuk menikah, kira-kira usia tujuh
belas tahun ke atas (ata molas agu ata
reba, muda dan mudi)
Disebut tarian Rangkuk Alu karena
alat yang digunakan dalam tarian ini adalah alu[3]
sungguhan. Perlu enam buah alu untuk
bisa menari Rangkuk Alu. Dua alu pertama digunakan sebagai alas
paling bawah dengan posisi melintang Utar-Selatan, dua alu yang lain melintang
Timur-Barat dan dua alu yang terakhir melintang Utara-Selatan lagi.[4]
Perlu empat wanita untuk bisa
menari dalam hentakan-hentakan alu.
Para wanita yang menari dalam tarian tersebut berdiri pada posisi
utara-selatan. Dibutuhkan empat orang pria untuk menghentak-hentakan alu
tersebut. Pria-pria yang menghentakan alu
dalam posisi duduk dengan kaki sebagai
tumpuan dan pantat tidak menyentuh tanah (lonto
ngontok), pada arah timur-barat dan utar-selatan.
Keempat pria tersebut
masing-masing memegang dua ujung alu
dan alu-alu tersebut dihentakan ke
bawah sebanyak dua kali, lalu ditubrukan
satu sama lain, sekali, dengan dua alu paling bawah tidak digerakan.
Hentakan-hentakan alu tersebut yang
kemudian ditubrukan menghasilkan bunyian-bunyian serasi. Hentakan-hentakan alu
tersebut membuat beberapa wanita yang berdiri di dalam posisi utara selatan (teing toni tau, saling membelakangi)
mulai menari. Mereka harus bergerak bersama-sama, selain untuk mempertontonkan
keindahan lenggak-lenggok tarian, juga untuk menjaga harmoni. Sebab, bila tidak
melakng menjukan gerakan secara bersama-sama maka akan terjadi ‘kecelakanaan’ (demper/demer).[5]
Bila ada penari wanita yang
mengalami ‘kecelakaan’ maka alu
berhenti dihentakan. Penari yang cedera akan diganti oleh penari wanita lain
sehingga tarian dapat dilanjutkan.[6]
Para pria gagah yang menghentak-hentak alu akan terus menghentak alu tersebut
hingga perempaun yang tersisa satu orang. Mereka wajib menghentakan alu dengan irama yang sama sejak awal.
Kesengajaan dalam melakukan ‘kecelakaan’ terhadap wanita yang menari tidak
dapat dibenarkan. Wanita yang menari hingga akhir berarti berhasil menyisihkan
saingan-saingannya dan punya hak untuk dipinang oleh keempat laki-laki yang
menghentak alu, dan hanya satu dari
keempat-laki-laki tersebut yang akan menikahi wanita tersebut. Itupun bila salah satu dari keempat pria
tersebut direstui oleh orangtua sang wanita.[7]
Jika tidak, sang wanita akan kembali menari Rangkuk
Alu dengan pria lain yang menghentak alu. Demikian pun para pria akan
kembali menhentakan alu dengan
wanita-wanita yang lain pada kesempatan yang lain pula.
Berjingkrak Di Bawah
Sinar Purnama
Kehidupan suku Manggarai yang
sangat bersahaja dengan alam diekspresikan dengan berbagai macam ritus
kebudayaan, baik dalam bentuk doa agama tradisional maupun dalam bentuk eksprsi
budaya lainnya. Bersimpuh di bawah sinar bulan purnama juga merupakan bagian dari
ekspresi kedekatan dengan alam semesta.
Kehidupan yang jauh dari
kebisingan ibu kota melahirkan kreativitas untuk membunyikan bunyi-bunyian
berirama dari peralatan-peralatan seadanya, seperti alu,sehingga dapat menghentak-hentakan hasrat dan berdendang ria di
bawah terang bulan purnama.
Tarian Rangkuk Alu merupakan
tarian yang dipentaskan pada malam hari di bawah sinar bulan purnama. Sinar
bulan purnama di Manggarai hanya akan benar-benar bisa dinikamati sepanjang
musim panas. Langit cerah di malam hari memungkinkan bulan purnama bercahaya
dengan indah dan suku Manggarai tradisional di pedalaman[8]
merayakan moment-moment seperti ini dengan tari-tarian dan Rangkuk Alu merupkan tarian yang mengundang keceriaan meski hanya dipentaskan oleh
muda-mudi dan orang-orang tua hanya ikut menyaksikan.
Musim panas di Manggarai juga
sangat identik dengan musim panen yang telah mencapai puncaknya. Pada musim panen, suku Manggarai memiliki cukup harta untuk
menyelenggarakan perkawinan anak-anak mereka. Sehingga musim panen juga akan
diikuti oleh berbagai macam ritual perkawianan. Perkawinan tradisional suku
Manggarai akan melewati berbagai proses yang panjang dan biasanya keluarga
laki-laki dan perempuan menyepakati agar pernikahan anak mereka pada musim panen (gereng ngengga/ngalis tana, menunggu
keadaan yang baik, dan biasanya pada musim panas/musim panen).
Demikian halnya tarian Rangkuk Alu menjadi tarian pemungkas
musim panen dan menjadi ajang untuk menemukan belahan jiwa. Mungkin akan
berujung pada peminangan, mungkin juga akan berujung pada patah hati. Tapi,
setidaknya Rangkuk Alu telah
memeriahkan malam purnama sepanjang musim panas masyarakat tradisisonal
Manggarai.
Rangkuk
Alu
digeser oleh tarian modern
Suku Manggarai cukup peka
terhadap perkembangan zaman dan mudah larut didalamnya. Trend zaman tidak pernah lepas dari jangkauan orang-orang
Manggarai. Perkembangan dunia musik di Manggarai juga menggeser seni musik-musik
tradisional dan semakin lama semakin tidak dikenang, apalgi dipentaskan. Hubungan
asmara yang serba instant pada zaman
sekarang dan budaya to the point
membuat gaya-gaya klasik yang merayu calon kekasih melalui tarian telah menjadi
usang.
Tarian Rangkuk alu pun demikian, budaya pesta dan dansa pada masyarakat
Manggarai moderen telah menghilangkan daya magis tarian Rangkuk Alu. Rangkuk Alu
yang menjadi ajang pencarain jodoh telah berevolusi menjadi budaya disko dan dansa.[9] Tarian
Rangkuk Alu, kini tidak lebih dari
sekadar mengenang bahwa tarian Rangkuk
Alu pernah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan tradisonal
suku Manggarai. Rangkuk Alu tidak begitu dihasrati sebagi sebuah warisan
leluhur yang penting untuk terus diturunkan kepada generasi-generasi
selanjutnya.
Keengganan suku Manggarai pada
zaman sekarang untuk kembali merias diri dengan tradisi-tradisi asli
daerah adalah sebuah kekhawatiran bila
kemudian dianggap tidak mengikuti perkembangan zaman atau ketinggalan zaman,
kolot dan sebagainya. Tarian-tarian tradisional seperti Rangkuk Alu ini pun kemudian dimusimkan dalam ingatan.
Bila ada suku lain dikemudian hari mengklaim bahwa Rangkuk Alu adalah tarian tradisonal
dari daerah atau suku lain di Indonesia atau luar negeri, maka persis pada saat
itu kesadaran akan pentinganya menjaga kelestarian budaya leluhur kembali menggeliat. Setidaknya
hal ini juga terjadi dalam pengalaman tingkat nasional Indonesia, di mana
setelah beberapa tarian asli Indonesia diklaim oleh negara-negara tetangga
sebagai tarian asli di negara mereka, reaksi penolakan dan merasa dipecundangi
bermunculan.
Kesadaran akan kepemilikan
terhadap sesuatu adalah hal yang baik, tetapi bila kemudian terlambat dan kepemilikan
akan sesuatu itu telah menjadi milik orang lain maka sia-sia jugalah kesadaran
tersebut. Pengalaman Indonesia sebagai sebuah bangsa yang banyak karyanya
diambil orang lain menjadi sebuah kesadaran bagi suku Manggarai untuk tidak perlu
merasa kolot bila harus meneruskan warisan leluhur dan merias diri dengan
kebudayaan tersebut. Kesadaran untuk melestarikan budaya lokal merupakn sebuah
cara berpikir yang sangat maju.
Kesimpulan
Trian Rangkuk Alu merupakan tarian asli suku Manggarai, Flores Barat,
yang telah menjadi media perjumpaan antara pemuda dan pemudi yang hendak
mencari pasangan hidup. Rangkuk Alu telah
menjadi gambaran hentakan-hentakan hasrat untuk diingini dan mengingini
seseorang. Tarian yang dimainkan di bawah sinar purnama selain untuk
menggambarkan kedekatan dengan alam dan sang pencipta, sinar lembut sang
purnama juga melukiskan nuansa-nuansa romantis.
Tarian yang telah lama menemani
perjalanan suku Manggarai tersebut telah kehilangan daya magisnya. Seni musik
modern kini mendominasi kehidupan suku Manggarai. Walau bagaimanapun, tarian
adat sebagai warisan budaya dan leluhur wajib dipertahankan sebab budaya selalu
menunjukan bangsa. Hal inilah yang kemudian dilakukan oleh sanggar-sanggar
kebudayaan Manggarai di Manggarai, terus menggali kebudayaan dan tari-tarian
tradisional untuk diteruskan kepada generasi selanjutnya, juga untuk kepetingan
bisnis dalam industry kepariwisataan.
Catatan Kritis
Manggarai sebagai sebuah suku
yang memiliki kekhasan dalam aspek kebudayaan perlu disadarkan kembali. Kesadaran ini tidak untuk menunjukan
primordialitas yang eksklusif (suku Manggarai yang menutup diri terhadap budaya
lain) tetapi penyadaran ini lebih kepada sebuah pembelajaran agar mengenali
diri secara mendalam sebagai suku/orang Manggarai
sehingga dapat menghayati ke-Indonesia-an yang manjemuk sebagai suatu cara
berada bangsa Indonesia.
Kesadaran ini seharusnya tidak saja ditekankan
kepada masyarakat tetapi juga pentingnya kesadaran pemegang otoritas, seperti
pemerintah dan juga gereja, untuk memberikan dorongan kepada masyarakat Manggarai
agar memiliki kepedulian dalam melestarikan tarian-tarian tradisional, misalnya
Rangkuk
Alu. Perlu ditekankan juga, bahwa pelestarian kebudayaan tradisional
leluhur merupakan sebuah kebanggaan karena dapat menunjukan ciri atau kekhasan
identitas sebagai orang Manggarai. Kerja sama seluruh elemen masyarakat,
pemerintah dan gereja akan sangat membantu dalam mempertahankan
kearifan-kearifan loka suku Manggarai.
[1] Salah satu jenis tarian adat suku Manggarai, Flores.
[2] Nuca Lale adalah nama lain untuk tanah Manggarai.
[3] Alu adalah sejenis kayu keras yang telah dipotong
sedemikian rupa denga ukuran panjang 1-2 meter. Besar alu tersebut kira-kira
seperti lengan seorang laki-laki dewasa
degan diameter 4-5 cm. Dalam kehidupan tradisional suku Manggarai, alu biasa digunakan untuk menumbuk
padi/jagung sebelum penggilingan padi/jagung diperkenalkan kepada suku
Manggarai.
[4] Untuk posisi alu, sangat bergantung dengan kontur
tanah di mana tarian itu dipentaskan. Saya menggunkan istilah Utara-Selatan,
Timur-Barat demi kemudahan pemahaman, sebab dalam tradisi orang Manggarai tidak
ada sebutan tenggara atau barat daya, misalnya. Orang Manggarai hanya memiliki
sebutan Lau (Utara), Le (selatan), Sale (barat) Awo (timur). Pada kemiringan yang dalam pengetahuan
modern tenggara, misalnya, tidak ada dalam pemahaman orang Manggarai
tradisional. Le-Lau, awo-sale, juga merujuk kepada Mori Keraeng, Tuhan, yang menjadi penguasa empat penjuru mata
angin. Lih. A.J. Verheijen, SVD, Manggarai
dan Wujud tertinggi, hlm.50
[5]
Keempat alu
yang digerakan, masing-masing menghentakan ke bawah dua kali, lalu menubrukan
satu sama lain satu kali, lalu dihentakan ke bawah lagi, ditubruk satu sama
lain, dst., merupakan iraman yang mengundang para wanita untuk menari. Para
wanita tersebut akan berpindah tempat dengan melompat celah alu saat para pria
mengehentakan alu ke bawah dan saat ditubrukan kaki para wanita harus sudah
dalam posisi aman lalu kembalimengambil kesempatan untuk perpindahan ke tempat
berikutnya dan wajib dilakukan secara bersama-sama.
[6] Pergantian tersebut hanya boleh dilakukan bila tarian
tersebut merupakan sebuah acara pertunjukan dalam memeriahkan hari ulang tahun
kemerdekaan atau hari besar nasional lainnya. Tetapi, untuk sebuah ajang
pencarian jodoh, yang mengalami ‘kecelakaan’ harus berhenti dan tarian baru
berhenti bila bila perempuan yang tersisa dan behasil melewati celah-celah
hentakan alu para pria tersebut.
[7] Untuk kasus penolakan, dalam tradisi suku Manggarai
yang tradisonal jarang sekali terjadi bahkan belum ada cerita yang mengisahkan
tentang penolakan selain cerita keperkasaan para pria yang menghentak alu dan
keluwesan para wanita dalam menari dan lincah saat melompat celah tubrukan alu-alu tersebut.
[8] Untuk Manggarai pesisir tidak melaksanakan hal-hal
seperti tari-tarian ini. Di pesisir Manggarai banyak didiami oleh suku-suku
yang datang dari luar Manggarai seperi, Bugis, Makasar, Bima, Padang dan Jawa.
[9] Untuk Orang Manggarai modern, khususnya yang berdiam di
Manggarai, ajang untuk mencari jodoh adalah melalui pesta pernikahan yang biasa
diadakan pada musim panas. Di sana Rangkuk
Alu telah berevolusi menjadi letupan-letupan musik pop dan cahaya purnama
telah ‘membumi’ dalam lampu-lampu listerik.
Saya sangat tertarik dengan budaya Manggarai dan peran gereja Katolik dalam kehidupan dan budaya masyarakat Manggarai. Salah satunya adalah upacara Kelas yang mana orang yang meninggal belum di anggap meninggal tetapi masih ada disekitar kita/di kampung yang di kenal dng Paáng be'le sehingga perlunya persembahan makanan dan minuman di tempat dia biasa semasa hidup hingga yg wafat di kubur dan dilanjutkan 3 hari berikut setelah dikubur/ wie saungta'a dan ritual yang dipakai berikut yang menandakhan bahwa yang meninggal telah betul2 berpisah dari dunia dan menuju dunia yang lain, dan diadakhanlah upacara Kelas. Bagaimana pandangan iman /gereja Katolik dalam hal ini ? Bukankah persembahan seperti Kelas dan pemahaman kematian dalam kacamata iman Katolik jauh berbeda dengan cara pandang masyarakat Manggarai ( tanpa mengurangi rasa hormat dengan budaya Manggarai), perlukan upacara Kelas apabila sudah mengimani Kristus ? apabila sudah menjadi Katolik ?Terima kasih, tabe.
BalasHapusgooooooooooodddddddddddd
BalasHapusMakasih bang Fernandes, sukses selalu
BalasHapusMakasih bang Fernandes, sukses selalu
BalasHapus